<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492</id><updated>2011-12-11T05:42:16.790-08:00</updated><category term='FISHBONE'/><category term='Soal-soal'/><title type='text'>Ela Nurlaela</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-6770553601322722548</id><published>2011-05-03T06:43:00.000-07:00</published><updated>2011-05-05T00:26:46.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FISHBONE'/><title type='text'>FISHBONE DIAGRAM PERANGKAT ALTERNATIF ANALISIS AKAR MASALAH</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gZ9UT5BLXuk/TcJQvVypa8I/AAAAAAAAAA4/KCL2WAMZiUQ/s1600/ELA+COVER+FISHBONE+CETAK.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-gZ9UT5BLXuk/TcJQvVypa8I/AAAAAAAAAA4/KCL2WAMZiUQ/s640/ELA+COVER+FISHBONE+CETAK.jpg" width="442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Kini zaman globalisasi dan turbulensi dimana tergambarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan perilaku manusia dan antara manusia seakan tanpa batas. Dimana sepanjang zaman hingga sekarang dan masa yang akan datang semakin cepat berubah. Ungkapan Bung Karno mantan presiden RI dalam salah satu pidatonya “jika kita tidak mengikuti perubahan maka kita adalah sejarah.”&lt;br /&gt;Konteks tersebut di atas mengarahkan kita pada pemikiran bahwa adalah subjek dan objek pada diri manusia. Hal ini bermakna bahwa manusia menciptakan perubahan dan perubahan itu sendiri mengkreatur manusia itu sendiri. Demikian hal dengan pendidikan sebagai apresiasi dari setiap perubahan manusia dan hal yang mampu mengubah manusia. Oleh sebab itu tidak sedikit para ahli yang mengungkapkan bahwa sekolah sebagai wahana pendidikan merupakan agen perubahan.&lt;br /&gt;Satu hal yang patut dipikirkan adalah bahwa pendidikan pun demikian pada diri manusia. Yaitu sebagai objek dan subjek dari perubahan manusia bahkan bisa mempercepat, mengoptimalkan setiap perubahan itu sendiri. Pendidikan mampu mengubah manusia dan manusia itu sendiri yang mampu mengubah pendidikan. Oleh sebab itu tidak sedikit kini muncul berbagai paradigma baru dalam sistem pendidikan sebagai bukti nyata bahwa pendidikan berubah seiring dengan perubahan manusia. Dan manusia pun berubah seiring dengan perkembangan sistem pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;Di pihak lain, tidak bisa diragukan lagi bahwasanya manusia tak akan terlepas untuk mengeksplorasi segala sumber daya yang dimilikinya. Dengan cara mencurahkan segala daya dan kemampuanya untuk selalu berinovasi menemukan sesuatu yang baru yang dapat membantu hidupnya menjadi lebih baik. Jika manusia tidak menggali segala kemampuanya maka ia akan tertinggal bahkan tergerus oleh zaman yang selalu berkembang.&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan Inovasi adalah hal yang mutlak dilakukan karena tanpa inovasi akan terjadi kemandekan pada dunia pendidikan yang kemudian berimbas pada pada elemen-elemen kehidupan yang lain seperti politik, ekonomi, sosial dan lain-lain. Pertanyaan yang terbentuk kini adalah realisasi prinsip dasar inovasi untuk pemecahan masalah atau kebermaknaan inovasi itu sendiri. Hal ini berangkat dari bahwa segala macam proses berawal dari perencanaan yang matang “if you fail to plan, you plan to fail” sehingga konteks analisis akar masalah lebih kentara pada proses perencanaan inovasi demi memunculkan solving, perubahan dan memunculkan inovasi. Meskipun menurut Su’ud (2010) tidak selamanya inovasi adalah perubahan namun kita yakin perubahan merupakan bagian dari inovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; ”Bagaimana mengimplementasikan fishbone Diagram sebagai Root Cause Analysis alternatif untuk merencanakan inovasi pendidikan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;Tulisan ini menyajikan suatu metode berpikir dengan menggunakan tata alir (flow chart) yang terutama dimaksudkan untuk mendapatkan “sebab terdalam atau akar suatu masalah”, dengan demikian diharapkan menghasilkan alternatif solusi dalam hal ini inovasi berdasarkan akar masalah yang terungkap. Sehingga makalah ini ditujukan untuk memberikan informasi dan gambaran implementasi perangkat fishbone diagram (Diagram Ishikawa) untuk menentukan sebab-akibat dalam permasalahan yang substansial dalam perencanaan inovasi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Manfaat Penulisan&lt;br /&gt;Makalah ini diharapkan bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para guru, pemerhati pendidikan, dan civitas pendidikan lainnya untuk terus berupaya menjadi bagian inovasi pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Substansi Inovasi Pendidikan (Konteks Acuan Masalah untuk Kebermaknaan)&lt;br /&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Inovasi dan Inovasi Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan sistem dimana komponennya terdiri dari berbagai subsistem yang menghasilkan nilai-nilai fungsi bagi pendidikan itu sendiri. Mulai dari tatanan kebijakan hingga empiris praktis. Pada level makro (pemerintahan pusat) mengembangkan dan menghasilkan kebijakan-kebijakan pendidikan hingga dijadikan patokan ideal pelaksanan pendidikan di level pemerintahan daerah (Kabupaten/Kecamatan). Namun kondisi ideal masih dalam tatanan kebijakan sedangkan empiris tetap bergantung pada pelaksana praksis di lapangan (tatanan mikro) yaitu di sekolah yang bergantung pada kompetensi dan profesionalisme dari kepala sekolah, guru (key factor), dan staff, dan lainnya.&lt;br /&gt;Dari paparan tersebut di atas mempersempit ruang gerak masalah atau akar masalah berdasarkan tatanan (subsistem) yang akan dikoreksi, diperbaharui dan memunculkan inovasi, baik dalam konteks Manajemen, Man, Material, Methode, Mechine atau bahkan perilaku persorangan dan perilaku organisasi pada umumnya. &amp;nbsp;Konklusi dari Danim (2010:160) beberapa diantaranya &amp;nbsp;termaktub bahwa kebijakan pembaharuan dalam bidang administrasi pendidikan sangatlah penting karena kebijakan administrasi inovatiflah yang akan mampu mewujudkan tujuan sekolah (research and development). Selanjutnya, dengan tegas menyatakan bahwa sebaik apapun pembaharuan bergantung pada pola pengelolaan dengan format administrasi yang efektif dan efisien.&lt;br /&gt;Lebih realistis lagi bagi guru sebagai key factor dalam proses pendidikan atau jasa pendidikan yang berhadapan langsung dengan siswa (customer) untuk melaksanakan berbagai inovasi demi pencapaian tujuan-tujuan pendidikan. Mulyasa (2008: 44) menyatakan bahwa guru adalah sosok sebagai pembaharu (innovator) dimana guru harus mampu menjembatani gap (jurang pemisah) dalam transfer potensi dan pengalaman yang dimiliki oleh siswa. Pertanyaannya semua berpeluang untuk timbul masalah, dimanakah kita memulai berinovasi? Semua subsistem faktor akan dianggap penting. Hal ini perlu kajian analisa akar masalah untuk menentukan masalah yang paling esensial untuk menghasilkan inovasi baik discovery maupun invention yang bermakna (mainfull / usefull).&lt;br /&gt;Inovasi atau innovation berasal dari kata to innovate yang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi kadang pula diartikan sebagai penemuan, namun berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti discovery atau invention (invensi). Discovery mempunyai makna penemuan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui. Sedangkan invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kegiatan manusia. Prof. Dr. Anna Poejiadi (2001) memberikan penjelasan: Secara harfiah to discover berarti membuka tutup. Artinya sebelum dibuka tutupnya, sesuatu yang ada di dalamnya belum diketahui orang. Sebagai contoh perubahan pandangan dari geosentrisme menjadi heliosentrisme dalam astronomi.&lt;br /&gt;Inovasi diartikan penemuan dimaknai sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik berupa discovery maupun invensi untuk mencapai tujuan atau untuk memecahkan masalah tertentu. Dalam inovasi tercakup discovery dan invensi. Santoso S. Hamijoyo dalam Cece Wijaya dkk (1992 : 6) menjabarkan bahwa kata baru diartikan sebagai apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima pembaharuan, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru adalah sifat kualitatif yang berbeda dari sebelumnya. Kualitatif berarti bahwa inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali dalam bidang yang mendapat inovasi.&lt;br /&gt;Berikut disarikan dari Kusmana (2010: Ada 5 tipe inovasi menurut para ahli, yaitu:&lt;br /&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Inovasi produk; yang melibatkan pengenalan barang baru, pelayanan baru yang secara substansial meningkat. Melibatkan peningkatan karakteristik fungsi juga, kemampuan teknisi, mudah menggunakannya. Contohnya: telepon genggam, komputer, kendaraan bermotor, dsb;&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Inovasi proses; melibatkan implementasi peningkatan kualitas produk yang baru atau pengiriman barangnya;&lt;br /&gt;3.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Inovasi pemasaran; mengembangkan metoda mencari pangsa pasar baru dengan meningkatkan kualitas desain, pengemasan, promosi;&lt;br /&gt;4.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Inovasi organisasi; kreasi organisasi baru, praktek bisnis, cara menjalankan organisasi atau perilaku berorganisasi;&lt;br /&gt;5.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Inovasi model bisnis; mengubah cara berbisnis berdasarkan nilai yang dianut.&lt;br /&gt;Inovasi karakteristiknya ditentukan oleh pasar dan bisnis (customer demand). Inovasi yang mengikuti kondisi, memungkinkan pasar dapat dijalankan seperti biasanya. Inovasi yang terpisah, dapat mengubah pasar atau produk contohnya penemuan barang murah, tiket pesawat murah. Inovasi inkrementasi (penambah) muncul karena berlangsungnya evolusi dalam berpikir inovasi, penggunaan teknologi yang memperbesar peluang keberhasilan dan mengurangi produk yang tidak sempurna. Inovasi radikal, mengubah proses manual menjadi proses berbasis teknologi keseluruhannya.&lt;br /&gt;Terdapat dua sumber utama inovasi , yaitu:&lt;br /&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Secara tradisional, sumbernya adalah inovasi fabrikasi. Hal tersebut karena agen (orang atau bisnis) berinovasi untuk menjual hasil inovasinya.&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Inovasi pengguna; hal tersebut dimana agen (orang atau bisnis) mengembangkan inovasi sendiri (pribadi atau di rumahnya sendiri), hal itu dilakukan karena produk yang dipakainya tidak memenuhi apa yang dibutuhkannya.&lt;br /&gt;Kita berada di tengah-tengah samudera hasil inovasi. Ada inovasi: pengetahuan, teknologi, ICT, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb. Inovasi dapat dikelompokkan pula atas inovasi besar dan inovasi kecil-kecil namun sangat banyak. Inovasi itu tidak harus mahal. Inovasi itu dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja. Kalau leluhur kita tidak inovatif, kita semuanya akan tetap tinggal di gua-gua, dalam kegelapan, tanpa busana. Inovasi dapat menjadi positif atau negatif. Inovasi positif didefinisikan sebagai proses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan dengan memperkenalkan sesuatu yang baru yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Inovasi negatif menyebabkan pelanggan enggan untuk memakai produk tersebut karena tidak memiliki nilai tambah, merusak cita rasa dan kepercayaan pelanggan hilang.&lt;br /&gt;Tujuan utama inovasi adalah:&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;meningkatkan kualitas;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;menciptakan pasar baru;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;memperluas jangkauan produk;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;mengurangi biaya tenaga kerja;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;meningkatkan proses produksi;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;mengurangi bahan baku;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;mengurangi kerusakan lingkungan;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;mengganti produk atau pelayanan;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;mengurangi konsumsi energi;&lt;br /&gt;•&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;menyesuaikan diri dengan undang-undang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Prinsip dasar Inovasi Pendidikan dalam Konteks Permasalahan Pendidikan Substansial di Indonesia&lt;br /&gt;Terdapat sedikitnya enam prinsip yang harus dipegang oleh siapapun dalam berinovasi terlebih bidang pendidikan sabagai agen perubahan. Berikut di bawah ini 6 prinsip inovasi dalam:&lt;br /&gt;a.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Relevance, inovasi diklat harus berkesuaian dengan kebutuhan dalam penyelenggaraan diklat, terutama dalam penyesuaian-penyesuaian dengan kebutuhan pengembangan pengetahuan dan keterampilan ketenagaan.&lt;br /&gt;b.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Manageable, inovasi diklat merupakan bagian dalam pengembangan fungsi-fungsi manajemen kelembagaan.&lt;br /&gt;c.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sustainability, inovasi diklat harus dapat dilihat dari keberlanjutan program.&lt;br /&gt;d.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Efficiency, inovasi diklat memperhatikan unsur efisiensi dalam program kelembagaan, tidak menyebabkan penghamburan-penghamburan dalam pembiayaan dan waktu.&lt;br /&gt;e.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Productivity, inovasi diklat mengacu kepada peningkatan produktivitas kelembagaan diklat dan output.&lt;br /&gt;f.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Innovative, inovasi diklat merupakan bentuk-bentuk hasil pemikiran dan pengembangan-pengembangan yang inovatif. (Kusmana, 2010)&lt;br /&gt;Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalam melaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran.&lt;br /&gt;Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan mengingat banyak hasil-hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti penggunaannya untuk teknologi pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaan informasi pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan. Berikut beberapa contoh inovasi pendidikan di Indonesia di bawah ini:&lt;br /&gt;a. Top Down Inovation&lt;br /&gt;Inovasi model Top Down ini sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah) sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.&lt;br /&gt;b.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Bottom up Inovation&lt;br /&gt;Model inovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru. Desentralisasi dan Demokratisasi pendidikan. Perjalanan pendidikan nasional yang panjang mencapai suatu masa yang demokratis kalau tidak dapat disebut liberal-ketika pada saat ini otonomisasi pendidikan melalui berbagai instrument kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi negeri-dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampai UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan, pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah. Dalam konteks ini pula, pendidikan berusaha dikembalikan untuk melahirkan insan-insan akademis dan intelektual yang diharapkan dapat membangun bangsa secara demokratis, bukan menghancurkan bangsa dengan budaya-budaya korupsi, kolusi dan nepotisme, dimana peran pendidikan (agama, moral dan kenegaraan) yang didapat dibangku sekolah dengan tidak semestinya. Jika kita merujuk pada undang-undang Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah maka Desentralisasi pendidikan bisa diartikan sebagai pemberian kewenangan untuk mengatur pendidikan di daerah.&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Berbagai gap atau kesenjangan, ketidaksesuaian adalah inti masalah yang kesemuannya menjadi stimulan bagi munculnya inovasi. Meskipun menurut menurut White dalam (Kusmana, 2010:2) ”Innovation is more than change, although all innovation involve change”. Namun sehubungan dengan berbagai kendala menjadikan kekurangbermaknaan inovasi itu sendiri, menurut Sukmana (2010:17) seorang innovator &amp;nbsp;harus mampu mempertimbangkan dan menangani keempat faktor-faktor berikut sehingga program inovasi berjalan dengan baik dan memberikan impact : 1) pengalaman sejarah (pendidikan tradisional/sebelumnya), 2) Kompleksitas perkembangan dunia, 3) akar pendidikan yang kini berbasis berkiblat pada industrialisasi, 4) faktor-faktor alam sebagai sumber perubahan juga.&lt;br /&gt;B.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kepentingan (Root Cause Analisys) &amp;nbsp;dalam kepentingan korektif untuk inovasi&lt;br /&gt;Kompleksitas pendidikan menjadikan paradigma analisis akar masalah mencuat sebagai satu langkah strategis dalam mengembangkan perilaku korektif, pembaharuan bahkan berinovasi. Atas dasar kompleksitas maka ada baiknya diawali dengan inventarisir masalah ditinjau dari das sollen dan das sain (Kusmana, 2010:57). Secara garis besar analisis akar penyebab kejadian meliputi: investigasi kejadian, rekonstruksi kejadian, analisis sebab, menyusun rencana tindakan, dan melaporkan proses analisis dan temuan; (Ward, 2005). Investigasi kejadian meliputi: menentukan masalah, mengumpulkan bukti-bukti yang nyata, melakukan wawancara, meneliti lingkungan kejadian, mengenali faktor-faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya kejadian, menggambarkan rantai terjadinya kejadian (process &amp;nbsp;flowchart).&lt;br /&gt;Rekonstruksi kejadian meliputi: mengenali kejadian-kejadian yang mengawali terjadinya adverse event ataupun near miss, melakukan analisis dengan menggunakan pohon masalah untuk mengetahui kegiatan atau kondisi yang menyebabkan timbul kejadian, sehingga dapat dikenali sistem yang melatarbelakangi timbulnya kejadian. Penyebab dianalisis lebih lanjut dengan mengidentifikasi akar-akar penyebab, sehingga dapat dirumuskan pernyataan akar masalah. Berdasarkan hasil analisis akar penyebab disusun rencana tindakan yang meliputi penetapan strategi yang tepat untuk mengatasi penyebab yang diidentifikasi, dan dapat diterima oleh pihak yang terkait dengan kejadian. Rencana tindakan disusun untuk tiap akar penyebab kejadian. &lt;br /&gt;Proses analisis akar penyebab kejadian harus dicatat baik proses maupun alat yang digunakan, ringkasan kejadian, proses analisis dan investigasi, serta hasil temuan. Pada waktu melakukan analisis akar penyebab kejadian, perlu dipahami sebab terjadinya suatu kejadian, yaitu: kegagalan aktif (active failure) yang merupakan penyimpangan yang sengaja dilakukan oleh seseorang, dan kondisi laten (latent condition) kegagalan proses atau sistem sebagai akibat kompetensi yang kurang, kegagalan mengikuti prosedur, kerusakan alat, disain yang tidak tepat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Pandangan lain dikemukakan oleh Harsono dan Gasversz tentang analisis sebab akibat. Metode analisis akar masalah yang berdasar pada beberapa konsep dimana konsep tersebut yang terpenting adalah pendekatan terhadap masalah (realitas); sumber-sumber kebenaran (hati nurani, ilmu, filsafat, agama, ditambah seni sebagai fasilitator); dan teori-teori kebenaran (theory of truth), yang secara keseluruhan mengarahkan kecerdasan akal dan kejujuran dalam proses berpikir. Root cause analysis (RCA), why-because analysis (WBA), fishbone diagram dan why-why analysis di sebuah buku (Gaspersz, 1997:59-72), yang kebanyakan diterapkan dalam bidang kedokteran, keteknikan, dan manajemen.&lt;br /&gt;Harsono (2007), &amp;nbsp;”Inspirasi yang konseptual berasal dari analisis Aristoteles tentang kekhususan filsafat yakni mencari sebab-sebab yang terdalam dari seluruh realitas.” titik dasar konseptual menurut Harsono setidaknya perlu diperhatikan tiga komponen konseptual yang melengkapi analisis akar masalah yaitu:&lt;br /&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sumber kebenaran, yang tidak hanya satu seperti hakikatnya penampakan realitas yang beragam. Ia mencakup hati nurani, ilmu, filsafat, dan agama (ditambah seni sebagai fasilitatornya); semuanya digunakan secara menyeluruh dan saling melengkapi. Sedangkan teori kebenaran antara lain: teori korespondensi, teori konsistensi/ koherensi, teori pragmatis dan teori konsensus dari Habermas.&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pendekatan terhadap masalah (dan solusi) yang dibedakan menjadi dua. Ada masalah sosial dan kemanusiaan yang khas individual, ungkapan populernya: “tergantung pada individu masing-masing, ada pula masalah yang khas sistemik. Masalah sosial dan kemanusiaan sebagian besar membutuhkan kedua-duanya. Pendekatan individual/personal/mentalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di dalam diri manusia pelaku (aktor/agen), kualitas perorangan seperti niat, iman, disiplin-diri, nilai-budaya, kadar moralitas, kognisi, dan sebagainya yang proses internalisasinya tak dapat dikenai sanksi hukum (lebih bersifat imbauan). Pendekatan sistemik/struktural/ institusional/legalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di luar diri manusia berupa kesempatan, kualitas sistem, kualitas hukum, undang-undang, peraturan yang mempunyai sifat memaksa. Kedua pendekatan ini karena dipandang sebagai dualitas juga digunakan sekaligus dengan proporsi tertentu sesuai dengan kondisi yang dihadapi.&lt;br /&gt;3.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Berkaitan dengan kecerdasan (IQ) dan kejujuran (EQ dan SQ) dalam berpikir, khususnya dalam mengidentifikasi sebab-sebab. Di samping kecerdasan yang memadai, yang lebih diutamakan adalah kejujuran yang merupakan keutamaan moral dasar. Kejujuran sangat dituntut, khususnya ketika menemukan sebab negatif yang ternyata berkait dengan diri sendiri. Pada titik ini sering orang menghindar untuk tidak mengidentifikasinya, dan sebagai gantinya menyebut sebab lain yang juga masuk akal, bahkan tampak sangat masuk akal, tapi tidak berkait dengan dirinya. Jika ini yang terjadi akar masalah/penyebab tidak ditemukan, atau kalaupun dianggap sebagai akar masalah, jadinya semu bahkan menyesatkan secara sengaja (manipulasi). Dari kesembilan unsur kejujuran, yang terpenting adalah pengakuan yang tulus bahwa diriku atau pendapatku lebih keliru dibanding orang lain. Jika ketulusan tidak muncul perlu pengkondisian agar pengakuan akhirnya muncul, seperti yang dilakukan di pengadilan (dengan sumpah dan lie detector).&lt;br /&gt;Gasversz (1997:111) memperkenalkan tindakan korektif (tindakan/langkah keempat) dalam &amp;nbsp;manajemen mutu (TQM) untuk mengidentifikasi akar penyebab ketidaksesuaian yang terjadi menggunakan perangkat (proses flowchart) dalam hal ini menggunakan fishbone diagram (diagran Ishikawa) yang pertama kali dikemukakan oleh Prof. Kaoru Ishikawa dai Jepang.&lt;br /&gt;Di dalam konteks manajemen menurut Gasverzs (1997:111) Gasverz menyatakan setidaknya tiga hal yang patut dikembangkan di dalam langkah korektif salah satu diantaranya adalah analisis sebab-akibat. Suatu rencana tindakan tidak akan terbentuk sebelum adanya analisa proses dimana di dalamnya harus dilaksanakan analisis sebab akibat terlebih dahulu. Sehingga analisis akar masalah ini menjadi bagian penting baik dalam tindakan korektif maupun asas pertimbangan untuk menghasilkan kebijakan lainnya dalam suatu proses manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Implementasi Fishbone Diagram &amp;nbsp;(Prof. Kaoru Ishikawa) dalam Merencanakan Inovasi Pendidikan&lt;br /&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Merencanakan Inovasi Pendidikan&lt;br /&gt;Berdasarkan pada 6 prinsip dasar inovasi pendidikan maka setidaknya kita tidak akan semena-mena dalam merencanakan inovasi. Kembali ketitik awal bahwasanya proses inovasi dapat bermula dari munculnya kesenjangan (GAP), ketidaksesuaian sehingga diperlukan pembaharuan, perubahan atau tindakan korektif atau kebijakan baru yang sifatnya inovatif, meskipun setiap perubahan belum berarti inovasi namun setiap inovasi meski di dalamnya adalah perubahan. Singkatnya langkah langkah secara global sebagai berikut di bawah ini:&lt;br /&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Dokumentasi gap atau kesenjangan dan ketidaksesuaian (proses). Baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hingga terbentuk prosses flowchart.&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Identifikasi kebutuhan (demand) pelanggan dalam hal ini pengguna jasa pendidikan.&lt;br /&gt;3.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Menganalisis gap dan kesenjangan dan ketidaksesuaian (analisa proses) tersebut.&lt;br /&gt;4.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pengembangan tindakan korektif (root causes analysis)&lt;br /&gt;5.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Implementasi inovasi.&lt;br /&gt;6.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Validasi&lt;br /&gt;Tahapan tersebut di atas menunjukkan bahwa root causes analysis memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan selanjutnya (korektif/pembaharuan/inovasi).&lt;br /&gt;Gejolak, Penomena, Gap, Ketidak sesuian yang terjadi dalam proses pendidikan atau berbagai permasalahan yang aktual baik teoritis maupun paraktis, baik dalam tatanan makro maupun mikro, bahkan skup yang lebih kecil seperti permasalahan di dalam kelas dijadikan sandaran dalam berinovasi di dunia pendidikan. Namun untuk kebermaknaan suatu inovasi tetap harus mengusung prinsip-prinsip inovasi itu sendiri. Untuk itu salah satunya, masalah yang diungkap haruslah terlebih dahulu dinalisis (akar masalah) sehingga inovasi betul-betul berkenaan dan bermakna (mainfull).&lt;br /&gt;Berikut di bawah ini adalah diagram framework dimana esensi analisis akar masalah demi mewujudkan inovasi pendidikan yang penuh makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2.1 Frame Work Implementasi Fishbone Diagram dalam inovasi Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Fishbone Diagram&lt;br /&gt;Diagram ”Tulang Ikan” atau Fishbone diagram sering pula disebut Ishikawa diagram sehubungan dengan perangkat diagram sebab akibat ini pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Kaoru Ishikawa dari Jepang. Gasversz (1997: 112) mengungkapkan bahwa ”Diagram sebab akibat ini merupakan pendekatan terstruktur yang memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam menemukan penyebab-penyebab suatu masalah, ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang ada. Selanjutnya diungkapkan bahwa diagram ini bisa digunakan dalam situasi: 1) terdapat pertemuan diskusi dengan menggunakan brainstorming untuk mengidentifikasi mengapa suatu masalah terjadi, 2) diperlukan analisis lebih terperinci terhadap suatu masalah, dan 3) terdapat kesulitan untuk memisahkan penyebab dan akibat. Berikut disarikan dari Gasversz (1997, 112:114) tentang langkah-langkah penggunaan diagram Fishbone.&lt;br /&gt;1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Dapatkan kesepakatan tentang masalah yang terjadi dan diungkapkan masalah itu sebagai suatu pertanyaan masalah (problem question).&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Bangkitkan sekumpulan penyebab yang mungkin, dengan menggunakan teknik brainstorming atau membentuk anggota tim yang memiliki ide-ide berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;3.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Gambarkan diagram dengan pertanyaan masalah ditempatkan pada sisi kanan (membentuk kepala ikan) dan kategori utama seperti: material, metode, manusia, mesin, pengukuran dan lingkungan ditempatkan pada cabang-cabang utama (membentuk tulang-tulang besar dari ikan). Kategori utama ini bisa diubah sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;4.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Tetapkan setiap penyebab dalam kategori utama yang sesuai dengan menempatkan pada cabang yang sesusai.&lt;br /&gt;5.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Untuk setiap penyebab yang mungkin, tanyakan ”mengapa?” untuk menemukan akar penyebab, kemudian daftarkan akar-akar penyebab masalah itu pada cabang-cabang yang sesuai dengan kategori utama (membentuk tulang-tulang kecil dari ikan). Untuk menemukan akar penyebab, kita adapat menggunakan teknik bertanya mengapa lima kali (Five Why).&lt;br /&gt;6.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Interpretasikan diagram sebab akibat itu dengan melihat penyebab-penyebab yang muncul secara berulang, kemudian dapatkan kesepakatan melalui konsensus tentang penyebab itu. Selanjutnya fokuskan perhatian pada penyebab yang dipilih melalui konsensus itu.&lt;br /&gt;7.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Terapkan hasil analisis dengan menggunakan diagram sebab-akibat itu dengan cara mengembangkan dan mengimplementasikan tindakan korektif, serta memonitor hasil-hasil untuk menjamin bahwa tindakan korektif yang dilakukan itu efektif karena telah menghilangkan akar penyebab dari masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;Gambar 2.2 Fishbone Diagram (Gasversz, 1997:113)&lt;br /&gt;Pada langkah ketiga 3 tersebut di atas kategori utama dapat kita ubah menjadi sebab satu (Sb1) atau sebab 2 (Sb2) dan selanjutnya hingga menjadi cabang-cabang kecil sebab Sb1a, Sb1b dan seterusnya. Kita sepakati konteks korektif dalam hal ini adalah produk atau proses perbaikan dalam bidang pendidikan sehingga menghasilkan suatu pembaharuan/inovasi pendidikan &amp;nbsp;baik dalam bentuk discovery maupun invention baik dalam tatanan mikro maupun makro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2.3 Fishbone Diagram (Gasversz, 1997:113)&lt;br /&gt;Pertanyaan Why? Bercabang hingga mencapai lima yang menggambarkan sub tulang ikan itu sendiri. Dimana kategori utama Manusia, Pengukuran, Metode, Materia, Mesin dan Lingkungan dapat diganti sesuai kebutuhan misalkan, dalam konteks permasalahan penurunan kualitas lulusan bisa diganti dengan: Sarana Belajar, Orang tua, Teman Sekolah, Kurikulum, Guru, Kepala Sekolah, Lingkungan Belajar, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Implementasi Root Cause Analysis menggunakan Fishbone Diagram &amp;nbsp;dalam Perencanaan Inovasi Pendidikan&lt;br /&gt;Penerapan atau implementasi Fishbone Diagram dalam analisis akar masalah dalam berinovasi di bidang pendidikan, berikut di bawah ini langsung disajikan dalam bentuk contoh root cause analysis dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;Contoh 1.&lt;br /&gt;Masalah: Mengapa Kualitas Lulusan SDM Rendah?&lt;br /&gt;Kategori Utama&lt;br /&gt;Sebab 1 (Sb1): Guru/Dosen&lt;br /&gt;Sebab 2 (Sb2): Siswa&lt;br /&gt;Sebab 3 (Sb3): Masyarakat&lt;br /&gt;Sebab 4 (Sb4): Kurikulum&lt;br /&gt;Five Why&lt;br /&gt;Why&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 1&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 3&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 4&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Guru&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Siswa&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Masyarakat&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kurikulum&lt;br /&gt;Why 1&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Guru/Dosen kurang kompeten/tidak banyak belajar&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Siswa input (lulusan sekolah sebelumnya) kurang berkualitas&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Masyarakat kurang peduli kualitas lulusan siswa &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kurikulum kurang tepat atau salah arah.&lt;br /&gt;Why 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Guru/Dosen mengajar ditempat lain atau sibuk mencari uang tambahan&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Unit pemroses lembaga pendidikan sebelumnya berkualitas rendah (guru, fasilitas, dll)&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Masyarakat sudah menganggap biasa atau terbiasa dengan KKN&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Ada kepentingan tidak etis dalam penyusunannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why 3&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kesejahteraan kurang&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Anggaran APBN Rendah (BOS tidak normal)&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Rekruitmen siswa dan SDM tidak bersih atau transaparan &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Tidak ada akses kontrol untuk masyarakat atau pemerhati pendidikan&lt;br /&gt;Why 4&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;APBN tidak mencukupi&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pajak negara terserap sedikit&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Ada ketidak sesuaian penerapan kebijakan&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sistem demokrasi anomali yang sarat akan KKN&lt;br /&gt;Why 5&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pajak banyak hilang korupsi merajalela (temuan...)&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Korupsi dan sadar pendidikan moral rendah&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Korupsi dan sadar pendidikan moral rendah&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Korupsi dan sadar pendidikan moral rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau tampilan deskripsi dapat berupa catatan demikian yang jika diterapkan dalam fishbone diagram memunculkan gambaran tulang besar dan tulang kecil ikan. Sebagai berikut:&lt;br /&gt;Sb1-1: Guru/Dosen kurang kompeten/tidak banyak belajar&lt;br /&gt;Sb1-2: Guru/Dosen mengajar ditempat lain atau sibuk mencari uang tambahan&lt;br /&gt;Sb1-3: Kesejahteraan kurang&lt;br /&gt;Sb1-4: APBN tidak mencukupi&lt;br /&gt;Sb1-5: Pajak banyak hilang korupsi merajalela (temuan...)&lt;br /&gt;Sb2-1: Siswa input (lulusan sekolah sebelumnya) kurang berkualitas&lt;br /&gt;Sb2-2: Unit pemroses rendah (guru, fasilitas, dll)&lt;br /&gt;Sb2-3: Anggaran APBN Rendah (BOS tidak normal)&lt;br /&gt;Sb2-4: Pajak negara terserap sedikit&lt;br /&gt;Sb2-5: Korupsi dan sadar pendidikan moral rendah&lt;br /&gt;Sb3-1: Masyarakat kurang peduli kualitas lulusan siswa&lt;br /&gt;Sb3-2: Masyarakat sudah menganggap biasa atau terbiasa dengan KKN&lt;br /&gt;Sb3-3: Rekruitmen siswa dan SDM tidak bersih atau transaparan&lt;br /&gt;Sb3-4: Ada ketidak sesuaian penerapan kebijakan&lt;br /&gt;Sb3-5: Korupsi dan sadar pendidikan moral rendah&lt;br /&gt;Sb4-1: Kurikulum kurang tepat atau salah arah&lt;br /&gt;Sb4-2: Ada kepentingan tidak etis dalam penyusunannya&lt;br /&gt;Sb4-3: Tidak ada akses kontrol untuk masyarakat atau pemerhati pendidikan&lt;br /&gt;Sb4-4: Sistem demokrasi anomali yang sarat akan KKN&lt;br /&gt;Sb4-5: Korupsi dan sadar pendidikan moral rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2.4 Fishbone Diagram Rendahnya Kualitas SDM Indonesia&lt;br /&gt;Pertimbangkan tentang kejujuran, konseptual yang kuat untuk mewujudkan jawaban-jawaban, ”Mengapa?” sebanyak lima kali. Oleh sebab itu dianjurkan untuk melaksanakan Brainstorming dengan kekuatan Tim, jadi lebih dari satu orang pemikir. Dari contoh tersebut di atas, dapat diinterpretasikan bahwa akar masalah adalah masalah perilaku negatif KKN terutama korupsi dan pendidikan moral yang rendah sehingga untuk meningkatkan kualitas SDM kita adalah memberantas perilaku KKN terutama korupsi melalui perbaikan pendidikan moral atau penegakan positif moral apapun caranya (jalur pendidikan maupun supremasi hukum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2.&lt;br /&gt;Masalah: Mengapa Siswa SMA Kesulitan Menyerap Pelajaran Kimia ?&lt;br /&gt;Kategori Utama&lt;br /&gt;Sebab 1 (Sb1): Guru&lt;br /&gt;Sebab 2 (Sb2): Siswa&lt;br /&gt;Sebab 3 (Sb3): Masyarakat&lt;br /&gt;Sebab 4 (Sb4): Kurikulum&lt;br /&gt;Sebab 5 (Sb5): Sarana&lt;br /&gt;Five Why&lt;br /&gt;Why&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 1&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 3&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 4&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sebab 5&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Guru&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Siswa&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Masyarakat&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kurikulum&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sarana&lt;br /&gt;Why 1&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Guru kurang kompeten&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Siswa kuarang antuasias belajar&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Masyarakat kurang peduli kualitas jasa pendidikan &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Membutuhkan banyak praktek dan referensi&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Referensi dan praktek kurang memadai&lt;br /&gt;Why 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Fasilitas pendidikan dan pelatihan kurang&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Teacher center dan pembelajaran sering konvensional&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Masyarakat hanya sekedar berpifikir tentang lulus dan tidak lulus&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Tujuan kurikulum banyak&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Buku, Alat dan bahan kurang memadai&lt;br /&gt;Why 3&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Tidak ada waktu dana pendukung&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kurangnya referensi atau buku sumber dan praktek&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Terlalu percaya pada sekolah&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Materi yang harus disampaikan banyak&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Keterbatasan Dana&lt;br /&gt;Why 4&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pendanaan dari pribadi, pemerintah dan komite sekolah kurang lancar&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Kurangnya fasilitas&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Membatasi diri hanya berpikir tentang kelangsungan pendidikan siswa (ekonomi)&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Tuntutan kelulusan untuk melanjutkan kuliah&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Keterbatasan bantuan dari pemerintah maupun komite sekolah&lt;br /&gt;Why 5&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Alokasi dana pemerintah dan siswa terbatas. &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Alokasi dana pemerintah dan siswa terbatas. &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Angapan ekonomi lebih utama untuk kehidupan dibanding lainnya&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Perbaikan pendidikan untuk perbaikan ekonomi.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Alokasi dana pemerintah dan siswa terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau tampilan deskripsi dapat berupa catatan demikian yang jika diterapkan dalam fishbone diagram memunculkan gambaran tulang besar dan tulang kecil ikan. Sebagai berikut:&lt;br /&gt;Sb1-1: Guru kurang kompeten&lt;br /&gt;Sb1-2: Fasilitas pendidikan dan pelatihan kurang&lt;br /&gt;Sb1-3: Tidak ada waktu dan cana dukungan&lt;br /&gt;Sb1-4: Pendanaan pribadi, pemerintah dan komite sekolah kurang&lt;br /&gt;Sb1-5: Alokasi dana pemerintah dan siswa terbatas&lt;br /&gt;Sb2-1: Siswa kurang antusias belajar&lt;br /&gt;Sb2-2: Teacher center&lt;br /&gt;Sb2-3: Kurangnya referensi atau buku sumber dan praktek&lt;br /&gt;Sb2-4: Kurangnya fasilitas&lt;br /&gt;Sb2-5: Alokasi dana pemerintah dan siswa terbatas&lt;br /&gt;Sb3-1: Masyarakat kurang peduli kualitas jasa pendidikan&lt;br /&gt;Sb3-2: Masyarakat hanya berpikir tentang lulus dan tidak lulus&lt;br /&gt;Sb3-3: Terlalu percaya pada sekolah&lt;br /&gt;Sb3-4: Membatasi diri berpikir tentang kelangsungan perekonomian&lt;br /&gt;Sb3-5: Ekonomi lebih &amp;nbsp;untuk kehidupan (sekolah pun untuk perbaikan ekonomi)&lt;br /&gt;Sb4-1: Membutuhkan banyak praktek dan referensi&lt;br /&gt;Sb4-2: Indikator atau tujuan terlalu luas dan banyak&lt;br /&gt;Sb4-3: Materi yang harus disampaikan banyak&lt;br /&gt;Sb4-4: Tuntutan lulusan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang &amp;nbsp;lebih tinggi&lt;br /&gt;Sb4-5: Perbaikan pendidikan untuk jenjang yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Sb5-1: Referensi dan praktek kurang memadai&lt;br /&gt;Sb5-2: Alat dan bahan serta buku sumber kurang memadai&lt;br /&gt;Sb5-3: Keterbatasan dana&lt;br /&gt;Sb5-4: Keterbatasan bantuan dana dari pemerintah dan komite sekolah&lt;br /&gt;Sb5-5: Alokasi dana dari pemerintah dan siswa terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2.5 Fishbone Diagram Rendahnya Daya Serap Siswa SMA Terhadap Pelajaran Kimia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari contoh tersebut di atas, dapat diinterpretasikan bahwa akar masalah adalah keterbatasan pendanaan baik dari pemerintah maupun komite sekolah untuk menunjang proses belajar baik tingkat profesional/komptensi guru maupun siswa. Sehingga solusinya adalah penggalangan dana atau pengalokasian/pendistribusian dana yang diterima sekolah untuk menutupi kekurangan tersebut. Konteks tersebut di atas tidak mutlak, artinya hasil analisis akar maasalah bergantung pada individu/Tim melaksanakan Brainstorming. Bahkan kajian seperti di atas (kesulitan belajar) bisa dipersempit skupnya dalam konteks materi, metode mengajar, media, guru, siswa, dll, bergantung pada sudut pandang Tim analisis akar masalah.&lt;br /&gt;Dari contoh 1 dan 2 nampak sekali bagaimana analisis akar masalah sangat membantu dalam merencanakan tindak lanjut atau tindakan pemecahan masalah. Dimana outcome-nya adalah dapat dalam bentuk perubahan atau perbaikan bahkan inovasi baik discovery maupun invention. Setidaknya hal ini membantu mahasiswa dalam upaya membuat inovasi melalui jalur skripsi atau thesis, untuk guru membantu dalam memperlancar penilitian tindakan kelas. Selain itu lembaga pendidikan baik pusat maupun daerah serta sekolah itu sendiri sebagai wujud organisasi dimana di dalamnya terjadi proses manajemen sudah selayaknya berinovasi yang berbasis pada 6 prinsip inovasi untuk lebih bermakna setidaknya dapat menjauhi untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan pendidikan yang tidak bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;SIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;SIMPULAN&lt;br /&gt;Perubahan zaman sekarang menjadikan perubahan dunia pendidikan yang semakin kompleks permasalahannya dimana pendidikan sebagai sebuah sistem mangghasilkan permasalahan dari subsistem-subsistem pendukungnya dari mulai tatanan kebijakan hingga empris praktis, baik dari level makro hingga mikro. Hal ini mampu mengaburkan inti permasalahan sehingga diperlukan analisis akar masalah untuk menghasilkan tindakan korektif, pembaharuan bahkan inovasi baik discovery maupun invention.&lt;br /&gt;Root Causes Analysis &amp;nbsp;melalui perangkat Fishbone Diagram (Diagram Ishikawa). Membantu inovator untuk menginventarisir, menghindari keragaman masalah dan menemukan akar masalah untuk berinovasi, sehingga inovasi itu sendiri manifull (sangat bermakna). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;SARAN&lt;br /&gt;Sehubungan dengan kelebihan langkah-langkah Root Causes Analysis &amp;nbsp;melalui perangkat Fishbone Diagram (Diagram Ishikawa), memudahkan bagi inovator maka langkah-langkah dan perangkat tersebut disarankan untuk digunakan dalam upaya melakukan koreksi, perubahan, bahkan inovasi. Tidak menutup kemungkinan siapapun, &amp;nbsp;level atau Sumber Daya Manusia inovatornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danim, Sudarwan. 2010. Manajemen dan Kepemimpinan Ytransformasional Kekepala Sekolahan. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;,. 2010. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaspersz, Vincent. 1997. Manajemen Kualitas Penerapan Konsep-Konsep Kualitas Dalam Manajemen Bisnis Total. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harsono, Ari. 2008. Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi. MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 12, NO. 2, DESEMBER 2008: 72-81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusmana, Suherli. 2010. Manajemen Inovasi Pendidikan, Ciamis: PascasarjanaUnigal Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Rosda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Su’ud, Udin Syaefudin. 2010. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-6770553601322722548?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/6770553601322722548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/05/fishbone-diagram-perangkat-alternatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/6770553601322722548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/6770553601322722548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/05/fishbone-diagram-perangkat-alternatif.html' title='FISHBONE DIAGRAM PERANGKAT ALTERNATIF ANALISIS AKAR MASALAH'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gZ9UT5BLXuk/TcJQvVypa8I/AAAAAAAAAA4/KCL2WAMZiUQ/s72-c/ELA+COVER+FISHBONE+CETAK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-2401346092514888734</id><published>2011-05-02T23:43:00.001-07:00</published><updated>2011-05-02T23:43:48.528-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soal-soal'/><title type='text'>Soal Latihan : Stoikiometri</title><content type='html'>&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;1.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebanyak 0,4 gram natrium hidroksida (A&lt;sub&gt;r&lt;/sub&gt; Na = 23, O = 16,&amp;nbsp; H = 1) dilarutkan ke dalam air, larutan yang terjadi akan dapat menetralkan asam klorida 0,1 M sebanyak…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;2.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebanyak 150 cm&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; larutan kalium hidroksida 0,1 M dicampurkan dengan 100 cm&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; larutan asam sulfat 0,1 M. Berapakah pH larutan setelah reaksi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;3.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebanyak 1,15 g logam natrium (A&lt;sub&gt;r&lt;/sub&gt; Na = 23) direaksikan dengan asam klorida, berapakah volume gas yang dihasilkan jika pada P dan T tertentu yang sama massa 2000 cm&lt;sup&gt;3 &lt;/sup&gt;gas butana (A&lt;sub&gt;r&lt;/sub&gt; C = 12, H =1) sebanyak 1,12 gram?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;4.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bila 200 mL larutan timbal (II) nitrat 1 M direaksikan dengan 100 mL larutan asam sulfida 1 M. Jika A&lt;sub&gt;r&lt;/sub&gt; Pb = 207, S = 32, &amp;nbsp;maka massa endapan yang terbentuk sebanyak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;5.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Berapakah volume sulfur trioksida diukur pada RTP, bila direaksikan dengan larutan stronsium hidroksida menghasilkan endapan sebanyak 9,2 gram (A&lt;sub&gt;r &lt;/sub&gt;Sr= 88, S = 32, O = 16)?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;6.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebanyak 2,4 gram suatu logam M (A&lt;sub&gt;r&lt;/sub&gt; = 24) dilarutkan dalam larutan asam sulfat berlebihan menghasilkan senyawa M&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;(SO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;)&lt;sub&gt;x&lt;/sub&gt; dan 2,24 liter gas hydrogen. Tentukanlah rumus kimia senyawa tersebut dan tulislah persamaan setara reaksinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;7.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebanyak 5,4 gram suatu unsur logam (L) bervalensi tiga dilarutkan dalam larutan asam sulfat berlebihan. Apabila volum gas hidrogen yang terbentuk adalah 6 liter (T,P) sedangkan pada (T,P) yang sama 5 liter karbon dioksida bermassa 11 gram, tentukanlah massa atom relative logam (L) tersebut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;8.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Cuplikan yang mengandung kalium oksida (A&lt;sub&gt;r&lt;/sub&gt; K = 39, O = 16) seberat 23,75 gram dilarutkan ke dalam air hingga volumnya 1 liter. Bila 25 mL larutan tersebut dapat dinetralkan oleh 30 ml larutan H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;SO&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt; 0,1 M maka kadar K&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O dalam cuplikan tersebut adalah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;9.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Larutan asam cuka sebanyak 25 cm&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 M, sehingga NaOH yang digunakan adalah 30 cm&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;. Hitunglah molaritas asam cuka tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;10.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Campuran natrium hidroksida dan kalium hidroksida seberat 4,8 gram dilarutkan ke dalam air hingga volumnya 100 mL kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0,5 M ternyata memerlukan larutan HCl sebannyak 20 mL. Jika M&lt;sub&gt;r &lt;/sub&gt;&amp;nbsp;NaOH = 40 dan KOH =&amp;nbsp; 5, tentukan susunan campuran tersebut? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebanyak 1,43 gram hidrat natrium karbonat, Na&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;CO&lt;sub&gt;3&lt;/sub&gt;.&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;x&lt;/i&gt;H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O, dilarutkan dalam air dan volum larutan dijadikan tepat 100 m. 50 ml dari larutan itu tepat bereaksi dengan 10 ml larutan asam klorida 0,5 M. tentukanlah rumus senyawa hidrat tersebut.(A&lt;sub&gt;r&lt;/sub&gt; H = 1, C = 12, O = 16, Na = 23)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-2401346092514888734?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/2401346092514888734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/05/soal-latihan-stoikiometri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/2401346092514888734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/2401346092514888734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/05/soal-latihan-stoikiometri.html' title='Soal Latihan : Stoikiometri'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-7269112712688640768</id><published>2011-05-02T23:37:00.000-07:00</published><updated>2011-05-02T23:37:59.729-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soal-soal'/><title type='text'>Soal Latihan : Larutan Penyangga</title><content type='html'>1.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Yang dapat membentuk campuran penyangga adalah….&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; a.&amp;nbsp;2 mL Ca(OH)2 1 M + 4 mL HCl 1 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; b.&amp;nbsp;6 mL Ca(OH)2 1 M + 2 mL HCN 1 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; c.&amp;nbsp;2 mL HCOOH 1 M + 2 mL NH3 1 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; d.&amp;nbsp;4 mL HCOOH 1 M + 2 mL NaHCOO 1 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; e.&amp;nbsp;4 mL NH3 1 M + 2 mL H2SO4 1 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Campuran yang memiliki pH &amp;gt; 7 adalah….&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;a.&amp;nbsp;5 mL NaOH 1 M + 5 mL HCl 1 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;b.&amp;nbsp;5 mL NaOH 1 M + 5 mL HCN 1 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;c.&amp;nbsp;5 mL H2SO4 1 M + 5 mL NH3 4 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;d.&amp;nbsp;5 mL Ba(OH)2 1 M + 5 mL HCOOH 4 M&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;e.&amp;nbsp;5 mL NH3 1 M + 4 mL HCl 1 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;250 mL larutan NH3 0,2 M (Kb= 10-5) dicampur dengan 250 mL larutan (NH4)2SO4 0,1 M, pH campurannya adalah….&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;a.&amp;nbsp;5 - log 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;c. 9 – log 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;e. 9 + log 2&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;b.&amp;nbsp;5 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;d. 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;500 mL larutan CH3COOH 0,2 M (Ka = 10-5) dicampur dengan 1 L larutan Ba(OH)2 0,01 M pH campurannya adalah….&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;a.&amp;nbsp;5 - log 4 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;c. 5&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;e. 9 + log 4&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;b.&amp;nbsp;5 – log 8 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;d. 5 + log 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Harga pH dari campuran 50 mL HCOOH 0,2 M &amp;nbsp;(Ka = 2. 10-6) dengan 50 mL HCOOK 0,4 M adalah…&lt;br /&gt;a. 6 - log 2 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;c. 6 + log 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;e. 8 + log 2&lt;br /&gt;b. 6 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;d. 8 – log 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;100 mL larutan HCN 0,5 M (Ka= 2.10-5) dicampur dengan 100 mL larutan Ca(OH)2 0,2 M pH campurannya adalah….&lt;br /&gt;a. 5&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;c. 6 – log 5&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;e. 8 + log 5&lt;br /&gt;b. 5 – log 6 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;d. 8 – log 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;50 ml larutan NH3 0,5 M (Kb = 10-5) dicampur dengan 50 mL larutan (NH4)2SO4 x M, sehingga pHnya = 9 + log 4, x adalah….&lt;br /&gt;a. 0,625 M&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;c. 0,125 M&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;e. 0,0625 M&lt;br /&gt;b. 0,250 M &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;d. 0,075 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;100 mL larutan NH3 0,2 M (Kb = 10 -5) dicampur dengan x mL larutan HCl 0,2 M sehingga pH-nya = 9, x adalah….&lt;br /&gt;a. 150 mL&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;c. 75 mL &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;e. 25 mL&lt;br /&gt;b. 100 mL &amp;nbsp;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;d. 50 mL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;100 mL larutan NH3 0,5 M (Kb = 10-5) ditambah dengan x gram H2SO4 (Ar H = 1, S = 32, O = 16) sehingga pH campurannya = &amp;nbsp;9, maka x adalah…&lt;br /&gt;a. 42,25 g &amp;nbsp;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;c. 12,25 g &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;e. 1,225 g&lt;br /&gt;b. 22,25 g&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;d. 1,633 g&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;10.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;250 mL larutan HCN 0,2 M (Ka = 2 . 10-5) ditambahkan dengan x gram NaOH sehingga pHnya &amp;nbsp;= 5 – log 2 , jika Ar Na = 23, O = 16, H = 1, maka x adalah….&lt;br /&gt;a. 1,5 g&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;c. 0,5 g &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;e. 0,05 g&lt;br /&gt;b. 1,0 g&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;d. 0,25 g&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;pH larutan yang terdiri dari campuran CH3COOH (Ka = 10-5) dengan CH3COONa adalah 5 - log 2, maka perbandingan konsentrasi asam dengan basa konjugasinya adalah….&lt;br /&gt;a. 2 : 1&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;c. 5 : 1 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;e. 2 : 5&lt;br /&gt;b. 1 : 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;d. 1 : 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Dicampurkan larutan NH3 0,2 M (Kb = 10-5) dengan larutan HCl 0,1 M sehingga pHnya = 9 + log 4, maka perbandingan volume kedua larutan tersebut adalah….&lt;br /&gt;a. 5 : 2&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;c. 2 : 1 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;e. 1 : 3&lt;br /&gt;b. 2 : 5&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;  &lt;/span&gt;d. 1 : 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;800 mL larutan NH3 0,4 M (Kb = 10-5) dicampur dengan 200 mL larutan (NH4)2SO4 0,2 M, ke dalam campuran ini ditambah 2 mL larutan H2SO4 1 M, pH campuran sekarang adalah….&lt;br /&gt;a. 4,180 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;c. 8,574 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;e. 9,880&lt;br /&gt;b. 4,200&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;d. 9,575&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Jika ke dalam campuran penyangga soal no 13 ditambahkan 5 mL Ca(OH)2 0,05 M, maka pH larutan sekarang adalah….&lt;br /&gt;a. 5,100&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;c. 7,395 &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;e. 9.600&lt;br /&gt;b. 5,395&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;d. 8,605&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sistem larutan penyangga yang mempertahankan nilai pH cairan protoplasma dalam sel adalah….&lt;br /&gt;a.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;HPO42- / PO43-&lt;br /&gt;b.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;H2PO4- / HPO42-&lt;br /&gt;c.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;HCO3- / CO32-&lt;br /&gt;d.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;H2CO3 / HCO3-&lt;br /&gt;e.&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;CH3COOH / CH3COO¬-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Berlatih!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-7269112712688640768?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/7269112712688640768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/05/soal-latihan-larutan-penyangga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/7269112712688640768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/7269112712688640768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/05/soal-latihan-larutan-penyangga.html' title='Soal Latihan : Larutan Penyangga'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-1695299036798287168</id><published>2011-03-25T21:30:00.001-07:00</published><updated>2011-03-25T21:39:23.733-07:00</updated><title type='text'>Pengertian Paradigma</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 79.65pt; text-indent: 64.35pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 21px; line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 79.65pt; text-indent: 64.35pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-size: 16.0pt; line-height: 115%; mso-themecolor: text1;"&gt;PENGERTIAN PARADIGMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: -14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang – mengenai realita – dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: -14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Istilah paradigama ilmu pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn melalui bukunya yang berjudul “The Structur of Science Revolution”. Kuhn menjelaskan paradigma dalam dua pengertian. Di satu pihak paradigma berarti keselurahan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukkan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang konkrit yang jika digunakan sebagai model, pola atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang secara eksplisit sebagai atau menjadi dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: -14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma merupakan elemen primer dalam progress sains. Seorang ilmuwan selalu bekerja dengan paradigma tertentu, dan teori-teori ilmiah dibangun berdasarkan paradigma dasar. Melalui sebuah paradigma seorang ilmuwan dapat memecahkan kesulitan-kesulitan yang lahir dalam kerangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kerangka ilmunya sehingga menuntut adanya revolusi paradigmatik terhadap ilmu tersebut. Menurut Kuhn, ilmu dapat berkembang secara open-ended(sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan). Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktifitas ilmiah sesungguhnya. Menurut Kuhn ilmu harus berkembang secara revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasionalis dan empiris klasik sehingga dalam teori Kuhn faktor sosiologis historis serta psikologis ikut berperan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: -14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma membantu seseorang dalam merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: -14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Kata paradigma berasal dari bahasa Yunani yang berarti suatu model, teladan, arketif dan ideal. Berasal dari kata &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;para &lt;/i&gt;yang berarti disamping memperlihatkan dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: -14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Arti paradigma ditinjau dari asal usul beberapa bahasa diantaranya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;-&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Menurut bahasa Inggris : paradigma berarti keadaan lingkungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;-&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Menurut bahasa Yunani : paradigma yakni para yang berarti disamping, di sebelah dan dikenal sedangkan deigma berarti suatu model, teladan, arketif dan ideal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;-&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Menurut kamus psycologi : paradigma diartikan sebagai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 21.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Satu model atau pola untuk mendemonstrasikan semua fungsi yang memungkinkan adar dari apa yang tersajikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 21.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Rencana riset berdasarkan konsep-konsep khusus, dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 21.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Satu bentuk eksperimental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Kesimpulan : secara etimologi arti paradigma adalah satu model dalam teori ilmu pengetahuan atau kerangka pikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Secara terminologis arti paradigma sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;-&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma adalah konstruk berpikir berdasarkan pandangan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu permasalahan dengan menggunakan teori formal, eksperimentasi dan metode keilmuan yang terpecaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;-&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Dasar-dasar untuk menyeleksi problem dan pola untuk mencari permasalahan riset.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;-&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma adalah suatu pandangan terhadap dunia alam sekitarnya, yang merupakan perspektif umum, suatu cara untuk menjabarkan masalah-masalah dunia nyata yang kompleks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Kesimpulan : secara terminologi paradigma adalah pandangan mendasar para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Jika mengikuti pendapat Kuhn, bahwa ilmu pengetahuan ini terikat oleh ruang dan waktu, maka sudah jelas bahwa suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentu saja. Sehingga apabila dihadapkan pada permasalahan berbeda dan pada kondisi yang berlainan, maka perpindahan dari satu paradigma ke paradigma yang baru lebih sesuai adalah suatu keharusan. Sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial yang berparadigma ganda, usaha-usaha dalam menemukan paradigma yang lebih mampu menjawab permasalahan yang ada sesuai perkembangan jaman terus dilakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Cara memandang sesuatu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan dan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Pengertian paradigma menurut Patton(1975) : “A world view, a general perspective, a way of&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;breaking down of the complexity of the real world”(suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Pengertian paradigma menurut Robert Friedrichs(1970) : Suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Pengertian paradigma menurut George Ritzer(1980) : Pandangan yang mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang atau disiplin ilmu pengetahuan. Lebih lanjut Ritzer mengungkapkan bahwa paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan yang harus dijawab, bagaimana harus menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang harus dikumpulkan informasi yang dikumpulkan dalam menjawab persoalan-persoalan tersebut. Dari pengertian ini dapat disimpulkan, dalam suatu cabang ilmu pengetahuan dimungkinkan terdapat beberapa paradigma. Artinya dimungkinkan terdapatnya beberapa komunitas ilmuwan yang masing-masing berbeda titik pandangnya tentang apa yang menurutnya menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari dan diteliti oleh cabang ilmu pengetahuan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Pengertian paradigma menurut Masterman diklasifikasikan dalam 3 pengertian paradigma :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma metafisik yang mengacu pada sesuatu yang menjadi pusat kajian ilmuwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma sosiologi yang mengacu pada suatu kebiasaan sosial masyarakat atau penemuan teori yang diterima secara umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 3.8pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin; mso-themecolor: text1;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Paradigma konstrak sebagai sesuatu yang mendasari bangunan konsep dalam lingkup tertentu, misalnya paradigma pembangunan, paradigma pergerakan dll..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: -14.2pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; mso-themecolor: text1;"&gt;Masterman sendiri merumuskan paradigma sebagai pandangan mendasar dari suatu ilmu yang menjadi pokok persoalan yang dipelajari( a fundamental image a dicipline has of its subject matter).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-1695299036798287168?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/1695299036798287168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/pengertian-paradigma.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/1695299036798287168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/1695299036798287168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/pengertian-paradigma.html' title='Pengertian Paradigma'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-2396267273314995567</id><published>2011-03-25T19:51:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T19:51:22.790-07:00</updated><title type='text'>Manajemen Mutu</title><content type='html'>&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo1; tab-stops: 0cm; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 14.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 14.0pt; line-height: 150%;"&gt;RUMUSAN KONSEP MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;SECARA KOMPREHENSIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; tab-stops: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Salah satu cita-cita nasional yang harus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia ialah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional. Masa depan dan keunggulan bangsa kita ditentukan oleh keunggulan sumber daya manusia yang dimilikinya, di samping sumber daya alam dan modal. Pembangunan bidang pendidikan yang dilaksanakan pemerintah bersama masyarakat merupakan upaya mewujudkan cita-cita nasional tersebut. Namun demikian, dalam pelaksanaannya ternyata pendidikan Indonesia belum mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dengan negara lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kebijakan pembangunan pendidikan nasional sebagaimana digariskan dalam Rencana Strategis Depdiknas (2004-2009) diarahkan pada upaya mewujudkan daya saing, pencitraan publik, dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan. Tolok ukur efektivitas implementasi kebijakan tersebut dilihat dari ketercapaian indikator-indikator mutu penyelenggaraan pendidikan yang telah ditetapkan BNSP dalam delapan (8) standar nasional pendidikan (SNP). Tidak dipungkiri bahwa upaya strategis jangka panjang untuk mewujudkannya menuntut satu sistem penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan yang dapat membangun kerjasama dan kolaborasi diantara berbagai institusi yang terkait dalam satu keterpaduan jaringan kerja nasional. Dengan kata lain diperlukan pengembangan sistem penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. Lima hal yang perlu dilakukan dalam penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, yaitu : (1). Pengkajian mutu pendidikan, (2) Analisis dan pelaporan mutu pendidikan, (3) Peningkatan mutu pendidikan, (4) Penumbuhan budaya peningkatan mutu berkelanjutan, dan (5) Peningkatan mutu merujuk pada Standar Nasional Pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan merupakan salah satu strategi manajemen untuk menjawab tantangan eksternal suatu organisasi guna memenuhi kepuasan pelanggan. Kata manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu, jadi manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan. (Hasibuan, 2004:1). Sedangkan mutu merupakan konsep yang memiliki banyak persepsi makna, konsep mutu untuk suatu produk tertentu dapat berbeda-beda bergantung kepada siapa yang memandang produk tersebut. Oleh sebab itu mutu sulit untuk didefinisikan secara umum dan seragam. Standarisasi mutupun senantiasa berubah karena banyak faktor (waktu, pelanggan, kondisi ekonomi masyarakat, tingkat pendidikan masyarakat pelanggan dan pemakai dll.). Mutu dapat diartikan sebagai high-quality, dan sesuatu bisa dikatakan bermutu tinggi jika memiliki top-quality. Suatu produk dapat dianggap bermutu jika memenuhi standar-standar pabrik dan juga dapat memuaskan pelanggannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Konsep mutu pendidikan juga diartikan berbeda-beda tergantung pada situasi, kondisi dan sudut pandang. Ada yang berpendapat bahwa mutu pendidikan ditandai dengan kesesuaian dengan kondisi dan kebutuhan, daya tarik pendidikan yang besar, efektivitas program serta efisiensi dan produktivitas kegiatan. Sementara itu masyarakat umum berpendapat bahwa ukuran mutu yang utama adalah besarnya lulusan sekolah dengan nilai tinggi. Seringkali masyarakat juga berpendapat bahwa mutu selalu berkaitan dengan biaya, yaitu mutu yang tinggi selalu dengan biaya yang tinggi. Padahal biaya yang tinggi tidak selalu menjamin mutu yang baik, apalagi karena sekarang ini sedang terjadi gejala komersialisasi pendidikan, yang berorientasi kepada sekolah yang “menjual citra dan ijasah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Perbedaan sudut pandang didasarkan pada pendapat bahwa dalam proses pendidikan ada 3 unsur yang berkepentingan. Yang pertama adalah pemerintah dan atau yayasan bagi pendidikan swasta yang menentukan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;aturan pengelolaan (termasuk anggaran dan tatalaksana), kedua adalah peserta didik beserta orang tuanya yang memperoleh manfaat dari hasil pendidikan, dan ketiga adalah masyarakat&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang memperoleh manfaat dari tersedianya tenaga terdidik. Ketiga sudut pandang ini ada kemungkinan berbeda dalam mengartikan mutu proses pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sallis dalam bukunya Total Quality Management (TQM), mendefinisikan mutu sebagai sesuatu yang membedakan antara yang baik dan yang buruk. Pada bab lain beliau menyebutkan bahwa mutu merupakan sesuatu yang mutlak, di lain sisi mutu merupakan konsep yang relatif. Dan pengertian mutu yang relative ini kemudian digunakan dalam Total Quality Management. Awalnya Total Quality Management (TQM) diterapkan di dunia bisnis namun akhir-akhir ini mulai diadopsi dan diterapkan dalam dunia pendidikan, dengan asumsi bahwa penerapan model pengelolaan berbasis industri ini akan mampu menciptakan perubahan-perubahan dalam dunia pendidikan yang nantinya dapat meningkatkan mutu pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Konsep mutu pendidikan secara komprehensif mengacu pada suatu penyelenggaraan layanan pendidikan yang memenuhi standar-standar tertentu sehingga mampu memuaskan baik para pelanggan internal (guru, karyawan, dan siapapun yang terlibat dalam penyelenggaraan proses pendidikan) maupun pelanggan external (murid, orang tua, masyarakat, pemerintah dll.). Konsep ini menggunakan strategi yang memposisikan institusi pendidikan sebagai suatu institusi layanan jasa atau industri jasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Secara filosofis TQM menekankan adanya perbaikan yang terus menerus (continues improvement) untuk mencapai kepuasan pelanggan. Adanya standarisasi mutu produk yang diukur dengan kriteria-kriteria tertentu, spesifikasi pabriknya, tanpa cacat, dll. Pada suatu institusi pendidikan yang dianggap sebagai industri jasa pemenuhan sejumlah standar-standar, aturan-aturan dan perundangan, maupun kriteria-kriteria lain yang sudah disepakati bersama secara internal merupakan suatu keharusan. Standar-standar atau kriteria-kriteria lain yang disebut terakhir merupakan kekhasan sebuah produk baik barang maupun jasa. Perubahan culture (change of culture) untuk membentuk budaya, organisasi yang menghargai mutu sebagai orientasi seluruh komponen pendidikan dalam organisasi tersebut. Perubahan organisasi (up-side-down-organization) mempertahankan keeratan hubungan baik dengan pelanggan internal maupun pelanggan external. Dalam sebuah institusi pendidikan pelanggan utama yaitu murid atau mahasiswa (yang disebut pelanggan external pertama).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l2 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 14.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 14.0pt; line-height: 150%;"&gt;INDIKATOR&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;MUTU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 28.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;A.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Service Provider&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Indikator mutu menurut service provider adalah bahwa suatu produk dikatakan bermutu jika memiliki spesifikasi yang memenuhi standar-standar pabriknya, atau memiliki jaminan kualitas. Mutu pada versi ni dianggap sebagai mutu sesungguhnya (quality infact). Dalam institusi-institusi pendidikan di Indonesia misalnya pemenuhan 8 standar nasional pendidikan sesuai dengan BNSP/PPRI No. 19/2005, merupakan mutu dalam skala minimal. Artinya jika suatu institusi pendidikan hanya memenuhi standar pokok sebetulnya belum begitu bermutu, sampai dia mampu melewati standar-standar pokok tadi dan memberikan yang lebih serta menawarkan keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki lembaga-lembaga lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Indikator&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mutu pendidikan menurut Sistem&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pendidikan Nasional, UURI No. 20/2003 tersirat melalui 3 pilar pendidikan, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Pemerataan dan perluasan akses&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan indikator mutu yang harus ditetapkan oleh sekolah sebagai service provider adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Tersedianya kurikulum yang relevan dengan tuntutan dunia kerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Proses belajar mengajar yang konsisten&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Kompetensi guru yang memadai/sesuai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Mendapat dukungan dari pemerintah daerah, dan stickholder pendidikan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 28.9pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-theme-font: minor-latin;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;B.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut Customer/User&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Suatu institusi pendidikan yang baik akan selalu berupaya memuaskan para pelanggannya.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam dunia pendidikan, pelanggan, utamanya siswa/mahasiswa sehingga akan terjadi peningkatan permintaan yaitu membludaknya peminat ke institusi tersebut. Seorang manager harus mampu menganalisis segala kemungkinan yang ada yang dapat meningkatkan nilai jual suatu institusi melalui pendekatan-pendekatan tertentu atau untuk dapat memberikan kepuasan terhadap para pelanggannya, sebuah institusi pendidikan perlu melakukan berbagai upaya untuk mengexplorasi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Dan dalam hal ini strategi menjaga keeratan hubungan dengan pelanggan cukup berperan. Kebutuhan dan gagasan para siswa atau mahasiswa merupakan hal yang utama yang perlu diperhatikan oleh seorang manager pendidikan. Hal lain yang sering terlupakan adalah seorang manager satuan pendidikan sangat perlu juga untuk memberikan layanan terbaik untuk pelanggan internal dalam instansinya. Guru merupakan pelanggan internal dalam sebuah industri jasa pendidikan. Jadi seorang manager perlu menampung keinginan para guru untuk dapat memuaskan mereka. Kenyamanan kerja sangan berpengaruh terhadap kinerja seseorang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Jadi, suatu institusi pendidikan yang mampu memberikan kepuasan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt; baik kepada para pelanggan internal (guru, ten&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;ga pelatih, dan seluruh pegawainya) maupun kepada para pelanggan externalnya (siswa/mahasiswa, orang tua, para sponsor pendidikan, serta masyarakat pada umumnya), itulah yang disebut dengan institusi pendidikan bermutu. Dan ”mutu” sebuah institusi pendidikan dapat diidentifikasi dari tingkat kepuasan pelanggan yang akan dengan sangat mudah terlihat dari seberapa banyak peningkatan/penurunan permintaan akan produk layanan pendidikan pada institusi tersebut. Konsep mutu di sini merupakan mutu dalam persepsi (quality in perception). Mutu pada persepsi inilah bahkan perlu mendapat perhatian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 10.9pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: -7.1pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-2396267273314995567?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/2396267273314995567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/manajemen-mutu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/2396267273314995567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/2396267273314995567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/manajemen-mutu.html' title='Manajemen Mutu'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-8709205781885706008</id><published>2011-03-25T18:15:00.001-07:00</published><updated>2011-03-25T18:15:27.424-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-8709205781885706008?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/8709205781885706008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/8709205781885706008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/8709205781885706008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/blog-post.html' title=''/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-7304097205681150623</id><published>2011-03-25T05:55:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T06:01:19.714-07:00</updated><title type='text'>Kajian Paradigma Ilmu dan Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;1. a. Buku bacaan wajib untuk mata kuliah kajian paradigma ilmu dan pendidikan adalah The Structure Of Scientific Revolutions.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;b. Pengarangnya : Thomas S Kuhn&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;c. Isi dari buku ini menceritakan tentang revolusi, dimana revolusi adalah suatu proses menjebol tatanan lama sampai ke akar-akarnya kemudian menggantinya dengan tatanan yang baru sama sekali. Revolusi sains menurut Kuhn muncul jika paradigm yang lama mengalami krisis, dan akhirnya orang mencampakkannya serta merangkul paradigm baru. Dalam karyanya ini Kuhn menjelaskan segala segi revolusi sains dengan gamblang dengan menggunakan contoh-contoh yang sangat popular dari bidang sains yang lain seperti fisika, mekanik, kelistrikan dan kimia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Skema proses sains menurut Kuhn adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Pra Paradigma &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;→&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt; Pra Science &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;→&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Paradigma Normal Science &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;→&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt; Anomali &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;→&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt; Krisis Revolusi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;→ Paradigma Baru → Ekstra Ordinary Science →Revolusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;2. Pengertian Paradigma :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menurut G. Ritzer , (1967)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Paradigma merupakan cara pandang sebagai dasar para ilmuan untuk mempelajari tentang apa yang menjadi pokok masalah yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan untuk memecahkan persoalannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 39.3pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -25.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;-&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut Thomas Kuhn yang dikutip oleh Watson dan Cruk (1968)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Paradigma merupakan landasan berfikir atau konsep dasar yang dianut atau dijadikan pula oleh suatu masyarakat ilmuan dalam studi keilmuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 39.3pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;-&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut Bogdan dan Biklen, 1982:32&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Paradigma diartikan sebagai kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan cara penelitian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;3. Pengertian manusia :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;- Menurut filsafat keilmuan : manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan keras untuk belajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 14.2pt; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;- Menurut agama islam : manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai potensi. Manusia dipilih Allah SWT sebagai khalifah di muka bumi ini karena manusia memiliki berbagai potensi, diantaranya ruh, akal dan jasmani.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 155.95pt; mso-add-space: auto; text-indent: -77.95pt;"&gt;&lt;v:shapetype adj="10800" coordsize="21600,21600" id="_x0000_t5" o:spt="5" path="m@0,l,21600r21600,xe"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="val #0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod #0 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @1 10800 0"&gt;  &lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path gradientshapeok="t" o:connectlocs="@0,0;@1,10800;0,21600;10800,21600;21600,21600;@2,10800" o:connecttype="custom" textboxrect="0,10800,10800,18000;5400,10800,16200,18000;10800,10800,21600,18000;0,7200,7200,21600;7200,7200,14400,21600;14400,7200,21600,21600"&gt;  &lt;v:handles&gt;   &lt;v:h position="#0,topLeft" xrange="0,21600"&gt;  &lt;/v:h&gt;&lt;/v:handles&gt; &lt;/v:path&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" style="height: 1in; left: 0; margin-left: 30pt; margin-top: 10.3pt; position: absolute; text-align: left; width: 83.25pt; z-index: 251658240;" type="#_x0000_t5"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;H&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;4. Manusia sebagai Homo Educandum artinya bahwa setiap manusia memiliki multi potensi, baik itu multi potentiality (latent Talent) maupun multi Capability (Demontrative talent). Multi potensi manusia sebagai Homo Educandum terdiri dari : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;a. Personal Sosial dan Environmental Relationships&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;b. Artistic Performance&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;c. Multy Culturality&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;d. Spiritual and Religious Experience&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;e. Vocational Competence&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;f. Knowledge&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;g. Cognitive Skill&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;h. Awarencess&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;i. Creative Production (Invention)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Multi potensi ini memerlukan proses dalam pembelajaran yang kongkret, berorientasi tujuan, berbasis tantangan melalui penanganan pendidikan yang seimbang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Pengertian Homo Educandum juga mengisyaratkan adanya 3 subpredikat lainnya, yaitu homo educandee also atau makhluk terdidik, homo educabile atau makhluk yang dapat dididik, dan homo educandum atau makhluk pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan bagi manusia adalah usaha dalam rangka memanusiakan manusia dan memanusiawikan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;5. a. Isi Pasal 29 UUD :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Ayat 1 : Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 78.0pt; text-indent: -49.65pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;Ayat 2 : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;b. Isi Pasal 1 ayat 1 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;6. Pengertian Education for all(pendidikan untuk semua) menurut John Dewey mengandung arti bahwa pendidikan itu adalah hak dan kebutuhan semua orang. Dengan kata lain pendidikan adalah kodrat manusia. Secara umum John Dewey menyatakan bahwa pendidikan mempersiapkan individu untuk mengontrol dirinya sendiri dalam kehidupan masyarakat demokratis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 63.8pt; text-indent: -49.6pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-7304097205681150623?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/7304097205681150623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/kajian-paradigma-ilmu-dan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/7304097205681150623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/7304097205681150623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/kajian-paradigma-ilmu-dan-pendidikan.html' title='Kajian Paradigma Ilmu dan Pendidikan'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-5058294417282798350</id><published>2011-03-25T05:43:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T05:43:22.821-07:00</updated><title type='text'>Manajemen Pembiayaan</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;1.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pendidikan dikatakan sebagai sektor publik karena pendidikan &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dapat melayani masyarakat dengan berbagai pengajaran bimbingan dan latihan yang dibutuhkan oleh peserta didik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Karakteristiknya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1. Dijalankan tidak untuk mencari keuntungan financial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;2. Dimiliki secara kolektif oleh public&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;3. Kepemilikan atas sumber daya tidak digambarkan dalam bentuk saham yang dapat diperjualbelikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;4. Keputusan-keputusan yang terkait kebijakan maupun operasional didasarkan pada konsensus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;2. Manajemen keuangan penting dilaksanakan dalam lembaga sekolah, karena dalam pendidikan terdapat berbagai macam permasalahan yang terjadi di dalam lembaga terkait dengan manajemen keuangan pendidikan diantaranya sumber dana yang terbatas, pembiayaan program yang serampangan, tidak mendukung visi, misi dan kebijakan sebagaimana tertulis di dalam rencana strategis lembaga pendidikan. Di satu sisi lembaga pendidikan perlu dikelola dengan tata pamong yang baik(good governance), sehingga menjadikan lembaga pendidikan yang bersih dari berbagai malfungsi dan malpraktek yang merugikan pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;3. Yang dimaksud dengan penganggaran adalah proses kegiatan atau proses penyusunan anggaran (budget), dimana budget ini merupakan rencana operasional yang dinyatakan secara kuantitatif dalam bentuk satuan uang yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan lembaga dalam kurun waktu tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;Proses penyusunan anggaran :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;1. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama periode anggaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;2. Mengidentifikasi sumber-sumber yang dinyatakan dalam uang, jasa dan barang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;3. Semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang, sebab anggaran pada dasarnya merupakan pernyataan financial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;4. Memformulasikan anggaran dalam bentuk format yang telah disetujui dan dipergunakan oleh instansi tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;5. Menyusun usulan anggaran untuk memperoleh persetujuan dari pihak yang berwenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;6. Melakukan revisi usulan anggaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;7. Persetujuan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;revisi usulan anggaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;8. Pengesahan anggaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;4. Jenis anggaran (budget) ada 2, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;1. Budget strategis yaitu budget yang berlaku untuk jangka panjang, yaitu jangka waktu yang melebihi satu periode akuntansi(melebihi satu tahun).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;2. Budget taktis yaitu budget yang berlaku untuk jangka pendek, yaitu satu periode akuntansi atau kurang. Budget yang disusun untuk satu periode akuntansi(setahun penuh) dinamakan budget periodic, sedangkan budget yang disusun untuk jangka waktu yang kurang dari satu periode akuntansi misalnya 3 bulan dinamakan budget bertahap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;Bentuk-bentuk anggaran :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;1. Anggaran Butir-Per Butir (Line Item Budget)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;2. Anggaran Program (Program Budget System)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;3. Anggaran Berdasarkan Kinerja (Performance – Based Budget)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;4. PPBS / SP4 (Planning Programing Budgeting System/Sistem Perencanaan Penyusunan Program dan Penganggaran)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;5. Anggaran Berbasis Nol (Zero Based Budget/ZBB)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;5. Sistem pembukuan penting yang mendukung proses pembukuan di lembaga pendidikan yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;1. Buku Pos (Vate Book), memuat informasi beberapa dana yang masih tersisa untuk tiap pos anggaran dan mencatat peristiwa-peristiwa pembelanjaan uang harian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;2. Faktur, berupa buku atau lembaran lepas yang dapat diarsipkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;3. Buku kas, mencatat rincian tentang penerimaan dan pengeluaran uang serta sisa saldo secara harian dan pada hari yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;4. Lembar cek, merupakan alat bukti bahwa pembayaran yang dikeluarkan adalah sah. Lembar cek dikeluarkan bila menyangkut tagihan atas pelaksanaan suatu transaksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;5. Jurnal, untuk mencatat setiap transaksi keuangan setiap harinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;6. Buku besar, untuk mencatat kapan terjadinya transaksi pembelian, keluar masuknya uang saat itu dan neraca saldonya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0cm; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;7. Buku kas, berisi catatan tentang pembayaran uang sekolah siswa menurut tanggal pembayaran, jumlah dan sisa tunggakan atau kelebihan pembayaran sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;6. Auditing penting dilakukan di sekolah, karena dengan dilakukannya auditing maka :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;- Sekolah dapat mempersiapkan dengan lengkap dan baik kelengkapan-kelengkapan yang harus dipenuhi ketika dilakukan Audit oleh lembaga terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;- Sekolah dapat mempersiapkan program tindak lanjut dari hasil temuan-temuan kegiatan Audit yang telah memperoleh penilaian baik maupun kurang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;- Tenaga pelaksana administrasi bagian keuangan memiliki pengalaman dan ketrampilan dalam melakukan proses Audit internal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14.0pt; line-height: 115%;"&gt;- Tenaga kependidikan bagian keuangan dapat mengidentifikasi komponen-komponen yang harus dipersiapkan dalam menghadapi kegiatan Audit yang dilakukan oleh lembaga terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-5058294417282798350?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/5058294417282798350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/manajemen-pembiayaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/5058294417282798350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/5058294417282798350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/03/manajemen-pembiayaan.html' title='Manajemen Pembiayaan'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7654711029849049492.post-2186242348931346044</id><published>2011-02-26T05:55:00.000-08:00</published><updated>2011-02-26T05:55:40.817-08:00</updated><title type='text'>agar-agar sarikaya</title><content type='html'>bahan : 5 btr telur dikocok lepas,1 buah kelapa parut buat menjadi 2 gls santan kntl dan 4 gls santan encer, 1 bngks agar-agar pth, 1/2 kaleng susu kntl manis, 3 buah gula merah, daun pandan sckpnya.&lt;br /&gt;alat&amp;nbsp; : cetakan agar-agar, dandang buat ngukus, panci, saringan.&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;br /&gt;1. campur 4 gls santan encer, 3 buah gula merah, dan daun pandan, didihkan sambil diaduk-aduk, stlh mendidih saring kemudian sisihkan.&lt;br /&gt;2. campur 2 gls santan kental, 1 bngks agar-agar pth dan daun pandan, didihkan sambil diaduk-aduk, stlh mendidih satukan dgn adonan pertama.&lt;br /&gt;3. masukkan telur yg sdh dikocok lepas sdkt dm sdkt dan terakhir masukkan susu kntl manis.&lt;br /&gt;4. masukkan dalam cetakan agar-agar, diatasnya ditaburi potongan daun pandan, lalu dikukus selama krng lbh 15 menit.&lt;br /&gt;5. angkat, stlh dingin masukan dalam lemari es, siap untuk disajikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7654711029849049492-2186242348931346044?l=elanurlaela.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elanurlaela.blogspot.com/feeds/2186242348931346044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/02/agar-agar-sarikaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/2186242348931346044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7654711029849049492/posts/default/2186242348931346044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elanurlaela.blogspot.com/2011/02/agar-agar-sarikaya.html' title='agar-agar sarikaya'/><author><name>Ela Nurlaela</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11440948522420395512</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-R4FL0wx_N4M/TaZEGnC2YpI/AAAAAAAAAAY/GGsCd_vNUA0/s220/71747_172288279448576_100000022148473_615212_612549_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
